“Dia”
“dia”
datang lalu lalang,
Menampar
keras wajah hingga terjerembap
Mencabik,
merasuki jiwa hingga merana
Tak
satupun kuasa menahan
Sayatan-sayatan
lembut membuat hati teriris lebih dalam
Tubuh
meronta namun tak kuasa
Titik
air mengintip dari sela-sela garis mungil itu
“dia”
tertawa dengan bangganya
Mengikis
jiwa raga, hati dan pikiran
Merona
warna hitam pekat
Tak
ada cahaya
Tak
ada asa
Lagi-lagi,
“dia” tertawa dengan bangganya




