This awesome blogger theme comes under a Creative Commons license. They are free of charge to use as a theme for your blog and you can make changes to the templates to suit your needs.
RSS

Sepenggal tulisan saat berjalannya keintiman yang semakin intim 2


Aku tak mengerti kenapa perasaanku kembali aktif ketika sosok itu melihatku, walau dari kejauhan. Kenapa tidak logikaku saja yang aktif? Aku tak mengerti, ketika sosok itu menyapaku, ada getaran tersendiri yang menyetrum tubuhku. Kembali, logikaku tak sedang aktif saat itu.

Dia. Ya sosok itu.

*cinta bukanlah cinta jika diucapkan. Namanya cinta jika mampu menyampaikannya*
0 komentar

Sepenggal tulisan saat berjalannya keintiman yang semakin intim


Aku tak ingin kalian terus saling menekan. Aku benci melihat dan merasakan semua ini. Lelah. Hei.. lelah!
Kegamangan ini membuatku gamang. Ketika logika dan perasaan tak boleh kugunakan saat yang bersamaan. Menyiksa. Sungguh. Namun harus.
Sosok itu yang mengajariiku, walau aku tak meminta. Sosok itu yang memberiku kekuatan untuk bersama menjalani keintiman semua ini. Ya sosok itu.
Aku tak tahu apa hanya aku, atau tidak. Aku tak peduli. Aku merasakan sesuatu yang lain di luar logika. Ya, lagi-lagi perasaanku membawaku pada suasana yang sebenarnya tak ingin aku rasakan saat keintiman ini sedang terjadi.
Helaan nafas mengingatkanku akan kegelisahan sosok itu di depanku. Kegelisahan yang membuat keintiman ini menjadi lebih intim dan intim lagi. Aku mengerti. Tapi tak mengerti.
Sempat aku lontarkan perasaanku, dalam hatiku. Tentu, aku tak bicara. Aku bicara pada mata, dia membalasnya. Mata sayu yang selalu membuatku ingat akan pengorbanan yang dia beri untukku (untuk kami). Beberapa kata dari sosok itu yang selalu meresap pada logika dan perasaanku. Dan mungkin akan aku lakukan.
Mungkin.

*cinta bukanlah cinta jika diucapkan. Namanya cinta jika mampu menyampaikannya*
0 komentar

Sepenggal tulisan dari mulainya keintiman


Semua ini berawal saat posisi ini membelitku. Dimana banyak pihak yang menarikku dari arah yang berbeda, dan mendesakku dari arah yang berbeda pula. Terjepit, untuk bernafas pun aku sulit, apalagi untuk bergerak bebas.
Sesungguhnya aku berada dalam posisi netral. Tidak memberatkan salah satu pihak mana pun di logikaku. Tapi, perasaan ini berkata lain. Aku berpihak pada pihak yang mana memiliki sejarah yang sama denganku. Ya sosok itu.
Aku tak mau terlanjur menggunakan perasaanku, aku tak mau buyar dikala semua ini intim terjadi. Aku hanya ingin netral sampai akhirnya nanti, mungkin aku bisa menggunakan perasaanku pada sosok itu. Sosok dimana yang selalu membuatku malu untuk menangis di depannya, dan sosok yang mampu membuatku menangis sesaat karenanya.
Tak perlu, tak perlu aku bicara sosok itu. Tuhan tahu, dan manusia pun akan tahu nanti bila memang diperbolehkan aku untuk menggunakan perasaanku ini. Di saat semuanya tak lagi intim terjadi.
Ini baru dari sedikit permulaan dari peristiwa yang mungkin panjang. Aku tak tahu kelanjutan dari semua keintiman ini. Aku tak tahu bagaimana logika dan perasaanku berjalan. Aku tak tahu begaimana sosok itu pun menggunakan keduanya sepertiku. Aku tak tahu bagaimana semua ini akan berakhir.

*cinta bukanlah cinta jika diucapkan. Namanya cinta jika mampu menyampaikannya*
0 komentar