Kekuatan, Waktu dan Cinta...
Aku udah sampe kosan
yank J
Klik
send!
Ken melempar asal ponselnya setelah ia memastikan bahwa
pesan singkat untuk Rey kekasihnya telah terkirim. Ken merebahkan tubuhnya di
kasur, kemudian memeluk erat boneka kesayangannya sambil menunggu balasan dari
Rey. Ken memain-mainkan telinga bonekanya dengan asal, semenit, dua menit,
sepuluh menit, sampai akhirnya Ken tertidur dengan raut wajah yang kecewa.
***
Tok.. tok.. tok!!
Tidak ada jawaban. Ken menambah
kekuatannya untuk mengetuk pintu kamar kosan Cika.
Tok.. tok.. tok !!!
“Cikaaaaa!!!!!!”
“Apaan si? Berisik aja!” terdengar
oleh Ken ocehan tidak jelas dari dalam kamar Cika.
Tanpa basa-basi, Ken langsung
mendobrak kamar Cika. Tanpa diduga pula, ternyata pintu kamar Cika tidak
terkunci sama sekali dan membuat Ken terhuyung dan jatuh tersungkur tepat di
bawah tempat tidur Cika.
“Buahahahaaa.” terdengar suara tawa
yang amat sangat mengejek.
“Sialan! Bantuin kek, malah girang
banget liat temen nyungsep!” gerutu Ken.
“Males bantuin kamu! Kamu aja udah
bikin tidurku kacau!”
“Masih tidur? Ya ampun. Dasar kebo!”
Ken mendaratkan tubuhnya di kasur
empuk milik Cika. Ken merenung. Lebih tepatnya melamun. Pikiran Ken terbang tak
tentu arah, kemudian ada cahaya lurus yang menghantarkan Ken menuju bayangan
yang pasti, yaitu Rey, kekasihnya.
Ken
memperhatikan sahabatnya itu dengan seksama. Cika cantik, sangat cantik, pantas
saja banyak lelaki seusia mereka yang tergila-gila pada Cika dan mengaku suka
terhadapnya. Satu lagi nilai plus Cika, ia terlahir di keluarga yang berada,
menengah ke atas.
“Ngeliatin gitu
sih? Naksir lohh entar!”
Ken hanya
menggeleng lalu tersenyum, ada-ada saja si Cika ini.
***
Ken mengguncang-guncangkan kakinya
pertanda tidak sabar dengan kedatangan Rey, kekasihnya. Sudah lebih dari 10
menit ia menunggu kekasihnya itu. Rey itu jadi datang atau tidak sih?. Dengan
kesal ia menghembuskan nafasnya, ia beranjak dari tempat duduknya dan
melenggang masuk ke dalam rumahnya.
Tiinn... tiinnn....
Itu
Rey? Tanya Ken dalam hati. Ken segera berlari menuju pintu rumahnya, lalu
membukakan pintunya. Alangkah terkejutnya Ken, ternyata Rey benar-benar datang.
Ken langsung menubruk kekasihnya itu, dipeluk dengan amat sangat erat hingga
Rey nampak sulit sekali untuk bernafas. Setelah beberapa saat, Ken melepaskan
perlukannya terhadap Rey. Terdengar Rey menghembuskan nafasnya yang sedari tadi
ia tahan sewaktu Ken memeluknya.
“Ups..
maaf. Aku kekencengan ya.” Ken tersipu malu.
“Enggak
kok.” Ujar Rey.
Hm..
dingin lagi. Ken menggandeng lengan Rey dan menuntunnya masuk ke dalam
rumahnya, lalu mempersilakan Rey masuk. Dengan sigap, Ken langsung berlari
kecil menuju dapurnya untuk membuatkan kekasihnya itu minuman. Kopi susu dengan
sedikit gula, gumam Ken. Tanpa ia sadari, Ken tersenyum sendiri karena
terlampau senang akan kehadiran Rey. Setelah jadi, Ken membawakannya untuk Rey
di ruang tamu.
“Diminum
Rey.”
Rey
hanya mengangguk, “Terima kasih, seharusnya kamu tidak perlu repot seperti
ini.”
“Tidak
kok.” Jawab Ken singkat.
Ada
perasaan getir dalam dada Ken, rasanya ia tidak ingin lagi mengenal Rey saat
seperti ini. Ia sungguh tidak mengenal Rey. Rey seakan tidak memiliki perasaan
apapun terhadap Ken. Ken tidak lagi melihat pancaran kasih sayang dari sudut
mata Rey.
Lama
mereka berdiam. Tidak ada satupun yang membuka suara untuk mencairkan suasana
yang beku dalam ruangan itu. Tak disangka, Rey berdiri dari duduknya dan
berpamitan untuk pulang. Ada perasaan kecewa yang teramat sangat dalam diri
Ken, namun ia tak bisa melarang. Ken mengantar Rey sampai halaman, dan
dilihatnya mobil Rey yang terus menjauh kemudian menghilang.
Hati
Ken bagaikan teriris-iris benda tajam yang membuat hancur, sangat hancur.
Apakah kamu lupa, bahwa hari ini hari jadi kita Rey. Apa kamu telah
melupakannya.
***
Aku menyayangimu...
Ken
melempar asal kertas yang baru saja ia baca ulang untuk kesekian kalinya. Ahh!
Lama sekali kamu tidak mengatakan hal itu kepadaku Rey! Apakah kamu sudah tidak
lagi menyayangiku? Tidak lagi mencintaiku?. Ken menutupi mukanya dengan bantal
yang ada di ranjangnya. Rasanya Ken ingin menangis, dan benar saja hanya butuh
beberapa saat Ken menitikkan air mata perlahan-lahan.
Sudah
beberapa bulan ini Ken tidak bertemu Rey dan tidak pula mendengar kabarnya. Tiba-tiba
ponsel Ken berdering tanda telepon
masuk. Ken mangangkatnya tanpa melihat siapa yang menelepon.
“Kamu
di mana?”
“Di
rumah, kenapa?”
“Aku
ke rumah!”
Belum
sempat Ken menjawab, Cika sudah mematikan teleponnya. Ken gusar, ada apa ya?.
Ken berlari keluar rumah ketika ia mendengar motor Cika terparkir di halaman
rumahnya, Ken menghambur sahabatnya itu dan langsung mencecar dengan berbagai
pertanyaan ketika melihat sahabatnya itu tidak memiliki air muka seperti
biasanya.
Sambil
terus menggeret sahabatnya masuk, Ken terus bertanya, “Ada apa ka? Cerita!!
Cerita!”
Terlihat
air muka yang bingung pada diri Cika, ia membuka mulutnya tapi lalu
mengatupkannya kembali. Kemudian Cika menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak
gatal. Ken mengerti akan kebingungan dari sahabatnya itu, maka ia
meninggalkannya dan kembali lagi sambil membawa minuman kesukaan Cika.
“Udah,
diminum dulu. Nanti kalo udah tenang, baru deh kamu cerita.”
Cika
mengangguk dengan cepat dan segera meminum apa yang sudah disuguhkan Ken.
Setelah minuman tersebut habis, Cika mengatur nafas dan sepertinya ia siap
untuk menceritakan apa yang harus ia ceritakan.
“Begini..”
Cika memandang Ken.
“Rey...
masuk rumah sakit Ken, barusan aku ditelepon sama teman sekelasnya yang
kebetulan menemukan Rey di lokasi kejadian.”
“Ke..
napa? Rey kenapa Cika!”
“Rey
kecelakaan, dia terhimpit truk dari arah yang berlawanan.”
Wajah
Ken menjadi pucat pasi. Terdengar raungan dari mulut kecil Ken. Dia
meronta-ronta dan akhirnya tak sadarkan diri.
***
5
Mei 2011
Aku mungkin manusia terbodoh yang
ada di muka bumi ini. Aku sungguh mencintai Ken, namun aku tak bisa
memperlakukan dia selayaknya pasanganku! Aku tak memiliki keberanian untuk
memperlakukan dia sebagai wanitaku satu-satunya selain ibuku. Maafkan aku.
17
Mei 2011
Lagi-lagi
aku melakukan kebodohan yang fatal (mungkin), tapi bagiku ini fatal. Aku tak
tahu apakah Ken masih mencintaiku atau tidak. Aku tahu hari ini tepat satu
tahun hubungan kami, tapi aku masih canggung untuk mencairkan suasana! Bodoh.
16 Agustus 2011
Besok
usia hubunganku dengan Ken sudah menginjak tigabelas bulan. Aku ingin
melamarnya besok. Semoga kebodohanku tidak terulang lagi. Aku sangat mencintai
Ken, sangat mencintainya. Tak ada lagi wanitaku selain Ken. Dan aku akan
menikahinya ketika usia hubungan kami tepat dua tahun. I promise!.
***
Halaman
terakhir buku catatan Rey
Ken wanitaku, apakah kamu percaya
akan kekuatan cinta?maaf, aku mungkin selama ini tidak membuatmu bahagia, atau
mungkin aku membuatmu menderita dengan segala kebodohanku. Sungguh tak ada niat
dariku untuk melakukan segala kebodohan yang telah kulakukan setiap kali kita
berjumpa.
Kau tahu? Aku selama ini bersikap
dingin terhadapmu, karena aku merasa belum pantas untuk melakukan sesuatu yang
mesra terhadapmu. Karena apa? Karena aku belum mapan. Dan kau tahu wanitaku,
kini aku merasa sudah cukup mapan untuk menghdupimu, untuk kehidupan kita, dan
untuk keluarga kita, anak-anak kita. Aku akan menikahimu wanitaku.
Maaf, sebelumnya aku tidak pernah
membicarakan soal ini ketika segala kebodohanku belum mulai terjadi. Aku
menyesalinya Ken, apa kau percaya padaku?.
Nah Ken, aku akan ke rumahmu
setelah maghrib nanti. Aku akan melamarmu untuk menjadi wanitaku sepenuhnya
(istriku), kuharap kau menerimaku.
***
Air
mata Ken sudah membanjir memenuhi wajahnya, matanya merah bukan menandakan
marah, melainkan menandakan kesedihan yang teramat sangat. Ken tak kuat membaca
catatan Rey, terjatuhlah buku catatan milik Rey diikuti oleh dirinya yang
tersungkur karena gemetar di kakinya tak kunjung berhenti.
“Ken,
jangan kamu menyalahkan waktu. Karena setiap jam, menit hingga detiknya semua
bisa mengalami perubahan yang drastis. Kita sebagai manusia harus bisa menerima
segala perubahan yang ada dengan lapang dada. Percayalah, dibalik segala
perubahan yang ada, pasti IA telah merencanakan sesuatu yang jauh lebih dahsyat
yang tidak akan masuk diakal manusia biasa.”
Kau lelakiku yang takkan
tergantikan Rey, meski aku harus tak berpasangan selama sisa hidupku. Karena
aku percaya, kelak kita pasti dipertemukan di surgaNYA sebagai sepasang kekasih
sah yang abadi.
TAMAT



0 komentar:
Posting Komentar