LUCY
Manusia.
Manusia di dunia ini tidak ada yang sempurna. Lebih tepatnya, tidak ada yang
jujur. Kejujuran sama sekali tidak dimiliki oleh manusia mana pun di dunia ini.
Jangankan untuk orang lain, untuk diri sendiri pun manusia tidak mampu jujur.
Entah apa yang membuat manusia tidak jujur, saya pun tidak mengerti (walau pun
saya juga manusia).
Saya mempunyai sahabat yang sangat
saya cintai melebihi apa pun di dunia ini. Piki. Saya sendiri lupa sejak kapan
saya mencintai dia melebihi apa pun di dunia ini, dan saya juga tahu dia pun
mencintai saya (meski kami sesama perempuan). Dan dia manusia, sama seperti
saya. Dia juga tidak jujur, sama seperti manusia lainnya. Namun tidak seperti
Cyta, seorang perempuan berwajah cantik, manis, dan lembut. Entah sejak kapan ia
terus mengikuti saya kemana pun saya pergi. Dia pun mencintai saya, meski dia
bukan manusia. Dan dia bukan pembohong seperti manusia, untuk itu saya percaya
terhadapnya.
Entah sudah berapa lamanya saya
tinggal satu atap dengan Piki sahabat saya, dan juga orang terkasih saya. Setiap
hari saya bertemu dengannya, si manusia, dengan segala ketidak jujurannya yang
saya ketahui namun ia tidak mengetahui bahwa saya tahu. Dan saya juga tidak
tahu sejak kapan saya bisa mengetahui yang seharusnya tidak bisa saya ketahui
jika ia tidak memberitahu saya.
Saya juga mempunyai teman perempuan,
Cyta. Dia bukan manusia. Cyta pula lah yang membuat sahabat saya penasaran akan
sosoknya. Setiap hari Piki memohon kepada saya untuk mempertemukan ia dengan
Cyta. Saya tidak bisa. Karena Cyta bukan manusia. Saya juga tidak mengingat
sejak kapan saya berteman dengan Cyta.
“Tuhan telah mempertemukan kita
Lucy. Tuhan yang mengirim saya untuk menjaga kamu di dunia ini.”
“Saya tidak percaya.”
“Kamu harus percaya saya, karena saya
bukan manusia.”
Saat itu di sisi saya ada Piki,
namun Piki tidak melihat, merasa, dan mendengar apa pun pembicaraan saya dengan
Cyta. Cyta berbeda, dia bukan manusia. Dan saya juga tak bisa mengenalkannya
pada Piki, karena dia tidak seperti saya.
Saya tidak mengingat sejak kapan
saya tinggal satu atap dengan Lucy, sahabat jiwa raga saya. Saya mencintai dia
melebihi apa pun di dunia ini, meski dia perempuan. Saya tidak tahu apakah dia
juga mencintai saya seperti saya mencintai dia. Saya juga tidak tahu apakah dia
tahu kalau saya mencintai dia. Saya diciptakan Tuhan untuk melindungi Lucy dari
apa pun yang mengganggunya. Namun saya terganggu dengan Cyta, teman Lucy yang
tak pernah saya jumpai dimana pun, kapan pun.
Saat itu, tiba-tiba saja tubuh Lucy
tidak bergerak, ia menjadi dingin seketika, tidak berkedip, dan hanya menatap
satu arah.
“Saya tidak percaya.”
Saat itu saya berada di sisinya,
memperhatikan Lucy tanpa berkedip sedikit pun, dan saya tidak merasa terganggu
pendengaran, maupun pengelihatan saya. Karena kata Lucy, ia sedang berbicara
dengan Cyta saat itu. Saya tidak tahu apakah Lucy berbohong pada saya atau
tidak, karena ia juga manusia sama seperti saya. Karena manusia tidak ada yang
sempurna, karena manusia tidak ada yang jujur.
Saya ingat betul kapan saya bertemu
dengan Lucy. Saya ingat betul kapan saya memberitahu ia yang sebelumnya ia
tidak tahu. Saya ingat betul bagaimana rasa penasaran si manusia sahabat Lucy,
Piki. Semua saya ingat, karena saya bukan manusia. Saya dikirim Tuhan untuk menjaga
Lucy. Saya dikirim Tuhan untuk memberitahu Lucy, tentang anugrah Tuhan yang ia
miliki. Dan saya juga tahu, tentang masa depan dia, tapi saya tidak akan
membiarkan sampai hal itu terjadi, meski pun itu adalah kehendak Tuhan, karena
Tuhan pula lah saya diciptakan untuk menjaga Lucy. Untuk itu saya akan sekuat
tenaga untuk menjaga Lucy dari apa pun yang mengancam dia, meski Tuhan sekali
pun.
Terkadang
saya kasihan mengingat Piki (sahabat Lucy yang mencintai Lucy sebagai seorang
wanita) yang selalu penasaran akan kehadiran saya di dunia Lucy. Terlebih saat
kejadian itu, saat saya sedang bercakap-cakap dengan Lucy, dan tentunya ada
Piki. Sungguh, saya ingin tertawa sekencang-kencangnya karena dia.
“Tuhan telah mempertemukan kita
Lucy. Tuhan yang mengirim saya untuk menjaga kamu di dunia ini.”
“Saya tidak percaya.”
“Kamu harus percaya saya, karena
saya bukan manusia.”
Bukan
karena percakapan saya dengan Lucy tentunya, tapi karena ekspresi wajah Piki
yang... sungguh saya sendiri tidak mampu menjelaskan apakah itu ekspresi
bingung, sedih, kecewa, marah, atau apa lah. Yang jelas setelah saya
meninggalkan Lucy dari ruangan itu, saya tertawa sekencang-kencangnya. HAHAHA.
***
Hari
ini, saya ada janji untuk pergi bersama Piki. Dia ingin kami berjalan-jalan berdua
saja. Dan saya sudah meyakinkannya berkali-kali kalau kami selalu berjalan
berdua saja, tapi dia selalu membantahnya dan pasti akan berakhir pada
perdebatan panjang. Ya walau pun saya mengerti maksudnya adalah kami berdua
saja, hanya saya dengan Piki, tanpa Cyta.
Piki
mengajak saya ke suatu tempat, yang menurut saya biasa saja, hanya ada
bilik-bilik yang berjejer dan sebuah kotak luas yang berisi air, yang biasa
disebut danau (walau pun menurut saya itu terlalu kecil untuk disebut danau), lampu-lampu
yang berjejer, lalu ada permainan bola-bola (yaitu permainan bola plastik yang
bisa dimasuki manusia, tentunya menggunakan plastik yang sangat tebal). Menurut
saya tidak ada yang spesial dari tempat ini.
“Karena
ini masih siang beb, bersabar lah sampai matahari kembali ke peraduannya, dan
bulan menyinari kita di tempat ini.”
Beb?
Ya, memang kata itu sudah seakan wajib kami gunakan (walau pun kami sesama
perempuan). Saya tidak tahu ucapan itu hanya untuk menyenangkan saya saja atau
memang benar, tapi saya hanya bisa menunggu sampai waktu itu tiba.
Tunggulah waktunya
sayang, kamu akan terpesona oleh semuanya.
”Hah?
Kamu ngomong apa?”
“Aku
diam saja dari tadi, ada yang kamu dengar?”
“Salah
dengar mungkin.”
Aneh.
Siapa yang bicara barusan? Saya memang melihat guratan bingung di wajah Piki,
yang berarti bukan dia yang bicara barusan. Dan Cyta, dia sudah saya kurung
dalam kamar tadi, agar untuk hari ini saja dia tidak membuntuti saya pergi
bersama Piki. Lantas siapa yang bicara barusan? Sedangkan tidak ada orang lain
di sini selain saya dan Piki.
Senja
sudah berlalu, matahari sudah kembali ke peraduannya. Berganti sang bulan nan
cantik yang bersinar menerangi bilik kami (saya dan Piki). Sepertinya malam
mendukung kami berdua saat ini, tak lupa bintang juga berkedip genit pada kami,
angin semilir yang berhembus dan tak sengaja membuat rambut saya tidak
beraturan. Seperti dalam dunia dongeng, secara teratur lampu-lampu yang ada
dalam taman ini nyala satu persatu, secara tak sadar saya memekik girang karena
salah satu lampu di taman ini berbentuk Hello Kitty (tokoh kartun kesayangan
saya). Dan dalam sekejap, taman ini berubah menjadi taman yang penuh
lampu-lampu berbentuk yang sangat luar biasa indah. Ternyata Piki tidak
membohongi saya kali ini.
Bunyi
petasan membuat saya kaget dan refleks untuk menengok ke arah sumber bunyi
tersebut. Dan saat itu pula, nyala lah satu lampu yang sedari tadi masih padam.
Sebuah tulisan yang berwarna merah muda, yang berada tepat di tengah-tengah
danau. Anehnya selama tadi siang, saya tidak melihat sama sekali lampu
tersebut.
I Love You Lucy
Saya
lihat, Piki menatap saya sangat dalam dan tersenyum pada saya. Oh Tuhan,
sahabat jiwa raga yang saya cinta!. Gelap seketika.
***
Bangun lah sayang,
bangun! Aku khawatir. Bangun!
Heh! Karena kamu Lucy
seperti ini. Kenapa kamu harus cinta sama dia? Kalian sesama perempuan! TIDAK
PANTAS!
Sungguh sayang, bangun.
Apa pun aku lakuin asal kamu bangun yank! Demi apa pun!
Halah, dasar manusia!
Bisanya mengumbar janji PALSU! Harusnya Lucy nggak punya sahabat seperti kamu!
“ADUHHH!
Apa-apaan sih! Pake teriak-teriak segala!”
Saya
melihat kedua teman saya di depan saya saat ini, dan memasang ekspresi wajah
yang.... bingung, aneh, linglung, entah lah saya sendiri tidak bisa
menjelaskan, yang jelas mereka berdua hanya diam dan melihat saya. Bukan...bukan,
saya sempat melihat Cyta memelototi Piki, tentu tanpa sepengetahuan Piki, tapi
saat ini mereka menatap saya. Dan....
Syukur lah kamu sudah
sadar
“ASTAGA!”
“Apa?”
Pengelihatan
saya pun kembali gelap, kembali menikmati tidur tanpa rasa. Pingsan.
Matahari
telah menyapa saya kembali pagi ini, udara pagi yang segar cukup membuat saya
mampu menghirup oksigen sepuas-puasnya. Setidaknya untuk menenangkan pikiran
yang benar-benar membuat saya memutar otak 360o. Oke, saya akan
mulai mengevaluasi kejadian kemarin sampai-sampai saya dua kali jatuh pingsan.
Pertama, ternyata Piki benar-benar cinta pada saya (meski pun Cyta telah
memberitahu saya jauh sebelum kejadian semalam). Kedua, saya bisa mendengar apa
pun yang tidak dikatakan, dan tidak hanya manusia yang bisa saya dengar karena
Cyta bukan manusia. Permainan apa lagi yang Tuhan ciptakan untuk saya? Sungguh,
seperti bukan dunia saya. Tapi saya berada di dunia saya sendiri. Apa keinginan
Tuhan.....
“Pagi
Bu...”
Ngapain sih pake
nyapa-nyapa segala. Cari perhatian banget!
“Pagi
Lucy..”
Oh
GOD! Terjadi lagi! Telinga saya tidak
bermasalah, atau justru bermasalah. Sungguh semua kejadian ini membuat saya
bingung. Tidak pernah saya sebelum ini mampu mendengar apa yang tidak dikatakan.
“Itu
kelebihan baru kamu Luc, terima lah. Tuhan sayang kamu.”
“Tapi
Cyta, saya tidak terbiasa oleh ini semua. Saya ingin menjadi manusia biasa
saja.”
“Nikmati
lah kenikmatan Tuhan Lucy.”
Oke,
nikmati lah kenikmatan Tuhan. Nikmati lha. Nikmati. Nikmati. Nikmati. Nik.
Mati.
***
Saya
ingin memutar kembali kejadian-kejadian yang telah berlangsung. Saya ingin
memutar kembali saat saya tidak mengenal Cyta. Saya ingin memutar kembali saat
saya tidak mengenal Piki. Saya ingin memutar kembali saat saya tidak mengenal
diri saya. Saya ingin memutar kembali saat saya tidak mengenal Tuhan. Saya
ingin.
Tidak
mungkin Tuhan mengabulkan keinginan saya untuk itu. Tidak mungkin. Karena ini
bukan dunia dongeng, ini nyata. Sungguh nyata, sehingga saya tidak ingin hidup
di dunia ini. Tapi itu juga tidak mungkin, saya sendiri tidak memiliki
keberanian untuk mengakhiri hidup saya.
Kamar
ini, seharusnya kamar ini menjadi tempat tinggal yang sangat nyaman untuk saya.
Tapi tidak setelah Piki menyatakan cintanya pada saya. Karena saya merasa, saya
dan Piki tidak seharusnya saling mencintai antara wanita, meski pun saya juga
mencintai Piki. Kamar ini, masih penuh oleh aroma saya dan Piki. Aroma tubuh
kami berdua. Tidak mungkin saya meninggalkan kamar ini, karena saya begitu
menyenangi aroma kamar ini. Dan tidak mungkin juga saya mengusir Piki untuk
pergi dari kamar ini, karena saya tidak bisa hidup tanpa Piki.
Oh,
sahabat jiwa raga yang saya cinta, mengapa kamu sunggu membuat saya tidak
nyaman di kamar ini. Dengan kehadiranmu. Dengan gerak-gerikmu. Dengan ucapanmu.
Dengan tatapanmu. Tapi saya juga tidak sanggup jika kamu meninggalkan saya.
Sahabat jiwa raga yang saya cinta, ajari saya untuk bisa menjalani hidup
setelah semua kejadian ini. Setelah kamu menyatakan cintamu.
***
“Maafkan
diri yang lancang ini, yang telah membuat kamu tidak merasa nyaman berada dalam
satu atap dengan diri ini.”
“Tidak
ada yang bersalah. Semua baik-baik saja. Setidaknya kamu jujur pada saya.”
“Sungguh
kah itu?”
“Ya.”
Ya?
Sungguh kah saya mengucapkan itu dengan jujur? Tidak. Saya tidak jujur. Saya
termakan oleh kebencian saya sendiri oleh manusia yang tak pernah jujur pada
orang lain mau pun diri sendiri. Saya pun munafik. Saya pembohong. Saya tidak
bisa mengatakan kalau saya sebenarnya terusik dengan Piki, karena dia mencintai
saya. Memang saya mencintai dia, tapi tak lebih dari seorang sahabat. Saya
tidak mungkin mencintai dia sebagai wanita, karena kami sesama perempuan. Saya
masih normal dan mampu mencintai laki-laki. Hanya laki-laki. Bukan perempuan.
Tuhan.
Maafkan kebohongan saya.
Piki.
Maafkan kebohongan saya.
“Saya
ingin berjalan-jalan. Sore ini cerah.”
Saya
tidak melihat atau pun mendengar Piki ingin ikut saya jalan-jalan sore. Syukur
lah, saya ingin sendiri saat ini. Saya juga tidak melihat Cyta seharian ini,
mungkin memang dia sengaja untuk tidak mengganggu saya. Dia sangat mengerti
saya. Karena dia bukan manusia.
Haduh! Tugas belum
selesai-selesai. Pusing!
Ya ampun, angkat dong
teleponnya. Sampai kapan kamu mau marah sama aku?
Nyebelin banget. Sok
cantik. Sok kaya. Padahal nggak ada apa-apanya dari aku.
Aku cinta kamu Luc,
sungguh.
Sabar sabar.
Bla.. bla.. bla...
bla... blaa... blaaaa.... blaaaaa....
“STOP
STOPPP!!! Tuhaannnn, saya tidak sanggup!”
Demi
apa pun di dunia ini! Saya merasa melihat dunia ini seakan telanjang. Manusia
tidak satu pun memakai pakaian untuk menutupi lekuk tubuh mereka. Aku merasa
begitu malu untuk menatap manusia-manusia, terlebih saat mereka berbohong.
Terasa sangat jelas dalam pengelihatan saya manusia-manusia ini begitu polos
tanpa sehelai benang pun. Mengapa Tuhan membiarkan saya melihat kepolosan para
manusia ini? Mengapa pula Tuhan membiarkan manusia-manusia ini tidak
berpakaian? Mengapa tidak satu helai pun menempel pada tubuh mereka? Mengapa
Tuhan membiarkannya, justru menyuruh saya untuk menyaksikan ini semua?
“Karena
kamu istimewa Lucy. Karena Tuhan memberikanmu kenikmatan yang tidak Ia berikan
pada manusia lain. Seharusnya kamu bersyukur atas semua ini.”
“Apa
katamu? Bersyukur? Tuhan kira, saya senang dengan semua kenikmatan yang Ia
berikan pada saya? TIDAK! Saya tidak senang!”
“Terkutuk
lah kamu Lucy.”
“Tunggu..
tunggu. Cyta! Bukan maksud saya....”
Cyta
meninggalkan saya. Cyta menghilang. Lantas apa yang harus saya lakukan,
sedangkan saya terus melihat ketelanjangan para manusia-manusia ini. Saya terus
mendengar segala ucapan-ucapan yang tidak mereka katakan. Dan Cyta meninggalkan
saya dengan segala kebingungan saya. Padahal hanya dia yang bisa membantu saya,
karena dia tahu segalanya, karena dia bukan manusia.
“Sayang,
makan lah ini. Aku sudah masak buat kamu. Lambung kamu belum terisi sejak kamu
pingsan kemarin.”
“Iya
nanti saya makan.”
Tuhan,
saya kembali berbohong pada diri saya sendiri dan tentunya Piki. Dan Tuhan,
saya sendiri pun sudah kau buat telanjang seperti manusia-manusia itu. Membuat
saya ingin memecahkan seluruh cermin di kamar ini dan menggoreskannya di urat
nadi saya sehingga saya tidak lagi melihat seluruh ketelanjangan
manusia-manusia dan juga diri saya sendiri. Sungguh, saya malu dengan
ketelanjangan saya, walau pun mungkin tidak satu pun manusia melihat saya
telanjang. Tapi cermin ini memantulkan diri saya utuh tanpa sehelai benang pun,
sudah cukup membuat saya malu. Saya malu. Saya seperti manusia-manusia lain.
Saya pembohong.
PRAK!
“Kenapa
kamu pecahkan cermin itu, Beb?”
“Selamat
tinggal sahabat jiwa raga yang saya cinta. Selamat tinggal dunia.”
***



0 komentar:
Posting Komentar