This awesome blogger theme comes under a Creative Commons license. They are free of charge to use as a theme for your blog and you can make changes to the templates to suit your needs.
RSS

LUCY (cerpen)

LUCY
Manusia. Manusia di dunia ini tidak ada yang sempurna. Lebih tepatnya, tidak ada yang jujur. Kejujuran sama sekali tidak dimiliki oleh manusia mana pun di dunia ini. Jangankan untuk orang lain, untuk diri sendiri pun manusia tidak mampu jujur. Entah apa yang membuat manusia tidak jujur, saya pun tidak mengerti (walau pun saya juga manusia).
            Saya mempunyai sahabat yang sangat saya cintai melebihi apa pun di dunia ini. Piki. Saya sendiri lupa sejak kapan saya mencintai dia melebihi apa pun di dunia ini, dan saya juga tahu dia pun mencintai saya (meski kami sesama perempuan). Dan dia manusia, sama seperti saya. Dia juga tidak jujur, sama seperti manusia lainnya. Namun tidak seperti Cyta, seorang perempuan berwajah cantik, manis, dan lembut. Entah sejak kapan ia terus mengikuti saya kemana pun saya pergi. Dia pun mencintai saya, meski dia bukan manusia. Dan dia bukan pembohong seperti manusia, untuk itu saya percaya terhadapnya.
***
            Entah sudah berapa lamanya saya tinggal satu atap dengan Piki sahabat saya, dan juga orang terkasih saya. Setiap hari saya bertemu dengannya, si manusia, dengan segala ketidak jujurannya yang saya ketahui namun ia tidak mengetahui bahwa saya tahu. Dan saya juga tidak tahu sejak kapan saya bisa mengetahui yang seharusnya tidak bisa saya ketahui jika ia tidak memberitahu saya.
            Saya juga mempunyai teman perempuan, Cyta. Dia bukan manusia. Cyta pula lah yang membuat sahabat saya penasaran akan sosoknya. Setiap hari Piki memohon kepada saya untuk mempertemukan ia dengan Cyta. Saya tidak bisa. Karena Cyta bukan manusia. Saya juga tidak mengingat sejak kapan saya berteman dengan Cyta.
            “Tuhan telah mempertemukan kita Lucy. Tuhan yang mengirim saya untuk menjaga kamu di dunia ini.”
            “Saya tidak percaya.”
            “Kamu harus percaya saya, karena saya bukan manusia.”
            Saat itu di sisi saya ada Piki, namun Piki tidak melihat, merasa, dan mendengar apa pun pembicaraan saya dengan Cyta. Cyta berbeda, dia bukan manusia. Dan saya juga tak bisa mengenalkannya pada Piki, karena dia tidak seperti saya.
            Saya tidak mengingat sejak kapan saya tinggal satu atap dengan Lucy, sahabat jiwa raga saya. Saya mencintai dia melebihi apa pun di dunia ini, meski dia perempuan. Saya tidak tahu apakah dia juga mencintai saya seperti saya mencintai dia. Saya juga tidak tahu apakah dia tahu kalau saya mencintai dia. Saya diciptakan Tuhan untuk melindungi Lucy dari apa pun yang mengganggunya. Namun saya terganggu dengan Cyta, teman Lucy yang tak pernah saya jumpai dimana pun, kapan pun.
            Saat itu, tiba-tiba saja tubuh Lucy tidak bergerak, ia menjadi dingin seketika, tidak berkedip, dan hanya menatap satu arah.
            “Saya tidak percaya.”
            Saat itu saya berada di sisinya, memperhatikan Lucy tanpa berkedip sedikit pun, dan saya tidak merasa terganggu pendengaran, maupun pengelihatan saya. Karena kata Lucy, ia sedang berbicara dengan Cyta saat itu. Saya tidak tahu apakah Lucy berbohong pada saya atau tidak, karena ia juga manusia sama seperti saya. Karena manusia tidak ada yang sempurna, karena manusia tidak ada yang jujur.
            Saya ingat betul kapan saya bertemu dengan Lucy. Saya ingat betul kapan saya memberitahu ia yang sebelumnya ia tidak tahu. Saya ingat betul bagaimana rasa penasaran si manusia sahabat Lucy, Piki. Semua saya ingat, karena saya bukan manusia. Saya dikirim Tuhan untuk menjaga Lucy. Saya dikirim Tuhan untuk memberitahu Lucy, tentang anugrah Tuhan yang ia miliki. Dan saya juga tahu, tentang masa depan dia, tapi saya tidak akan membiarkan sampai hal itu terjadi, meski pun itu adalah kehendak Tuhan, karena Tuhan pula lah saya diciptakan untuk menjaga Lucy. Untuk itu saya akan sekuat tenaga untuk menjaga Lucy dari apa pun yang mengancam dia, meski Tuhan sekali pun.
Terkadang saya kasihan mengingat Piki (sahabat Lucy yang mencintai Lucy sebagai seorang wanita) yang selalu penasaran akan kehadiran saya di dunia Lucy. Terlebih saat kejadian itu, saat saya sedang bercakap-cakap dengan Lucy, dan tentunya ada Piki. Sungguh, saya ingin tertawa sekencang-kencangnya karena dia.
            “Tuhan telah mempertemukan kita Lucy. Tuhan yang mengirim saya untuk menjaga kamu di dunia ini.”
            “Saya tidak percaya.”
            “Kamu harus percaya saya, karena saya bukan manusia.”
Bukan karena percakapan saya dengan Lucy tentunya, tapi karena ekspresi wajah Piki yang... sungguh saya sendiri tidak mampu menjelaskan apakah itu ekspresi bingung, sedih, kecewa, marah, atau apa lah. Yang jelas setelah saya meninggalkan Lucy dari ruangan itu, saya tertawa sekencang-kencangnya. HAHAHA.
***
Hari ini, saya ada janji untuk pergi bersama Piki. Dia ingin kami berjalan-jalan berdua saja. Dan saya sudah meyakinkannya berkali-kali kalau kami selalu berjalan berdua saja, tapi dia selalu membantahnya dan pasti akan berakhir pada perdebatan panjang. Ya walau pun saya mengerti maksudnya adalah kami berdua saja, hanya saya dengan Piki, tanpa Cyta.
Piki mengajak saya ke suatu tempat, yang menurut saya biasa saja, hanya ada bilik-bilik yang berjejer dan sebuah kotak luas yang berisi air, yang biasa disebut danau (walau pun menurut saya itu terlalu kecil untuk disebut danau), lampu-lampu yang berjejer, lalu ada permainan bola-bola (yaitu permainan bola plastik yang bisa dimasuki manusia, tentunya menggunakan plastik yang sangat tebal). Menurut saya tidak ada yang spesial dari tempat ini.
“Karena ini masih siang beb, bersabar lah sampai matahari kembali ke peraduannya, dan bulan menyinari kita di tempat ini.”
Beb? Ya, memang kata itu sudah seakan wajib kami gunakan (walau pun kami sesama perempuan). Saya tidak tahu ucapan itu hanya untuk menyenangkan saya saja atau memang benar, tapi saya hanya bisa menunggu sampai waktu itu tiba.
Tunggulah waktunya sayang, kamu akan terpesona oleh semuanya.
”Hah? Kamu ngomong apa?”
“Aku diam saja dari tadi, ada yang kamu dengar?”
“Salah dengar mungkin.”
Aneh. Siapa yang bicara barusan? Saya memang melihat guratan bingung di wajah Piki, yang berarti bukan dia yang bicara barusan. Dan Cyta, dia sudah saya kurung dalam kamar tadi, agar untuk hari ini saja dia tidak membuntuti saya pergi bersama Piki. Lantas siapa yang bicara barusan? Sedangkan tidak ada orang lain di sini selain saya dan Piki.
Senja sudah berlalu, matahari sudah kembali ke peraduannya. Berganti sang bulan nan cantik yang bersinar menerangi bilik kami (saya dan Piki). Sepertinya malam mendukung kami berdua saat ini, tak lupa bintang juga berkedip genit pada kami, angin semilir yang berhembus dan tak sengaja membuat rambut saya tidak beraturan. Seperti dalam dunia dongeng, secara teratur lampu-lampu yang ada dalam taman ini nyala satu persatu, secara tak sadar saya memekik girang karena salah satu lampu di taman ini berbentuk Hello Kitty (tokoh kartun kesayangan saya). Dan dalam sekejap, taman ini berubah menjadi taman yang penuh lampu-lampu berbentuk yang sangat luar biasa indah. Ternyata Piki tidak membohongi saya kali ini.
Bunyi petasan membuat saya kaget dan refleks untuk menengok ke arah sumber bunyi tersebut. Dan saat itu pula, nyala lah satu lampu yang sedari tadi masih padam. Sebuah tulisan yang berwarna merah muda, yang berada tepat di tengah-tengah danau. Anehnya selama tadi siang, saya tidak melihat sama sekali lampu tersebut.
I Love You Lucy
Saya lihat, Piki menatap saya sangat dalam dan tersenyum pada saya. Oh Tuhan, sahabat jiwa raga yang saya cinta!. Gelap seketika.
***
Bangun lah sayang, bangun! Aku khawatir. Bangun!
Heh! Karena kamu Lucy seperti ini. Kenapa kamu harus cinta sama dia? Kalian sesama perempuan! TIDAK PANTAS!
Sungguh sayang, bangun. Apa pun aku lakuin asal kamu bangun yank! Demi apa pun!
Halah, dasar manusia! Bisanya mengumbar janji PALSU! Harusnya Lucy nggak punya sahabat seperti kamu!
“ADUHHH! Apa-apaan sih! Pake teriak-teriak segala!”
Saya melihat kedua teman saya di depan saya saat ini, dan memasang ekspresi wajah yang.... bingung, aneh, linglung, entah lah saya sendiri tidak bisa menjelaskan, yang jelas mereka berdua hanya diam dan melihat saya. Bukan...bukan, saya sempat melihat Cyta memelototi Piki, tentu tanpa sepengetahuan Piki, tapi saat ini mereka menatap saya. Dan....
Syukur lah kamu sudah sadar
“ASTAGA!”
“Apa?”
Pengelihatan saya pun kembali gelap, kembali menikmati tidur tanpa rasa. Pingsan.
Matahari telah menyapa saya kembali pagi ini, udara pagi yang segar cukup membuat saya mampu menghirup oksigen sepuas-puasnya. Setidaknya untuk menenangkan pikiran yang benar-benar membuat saya memutar otak 360o. Oke, saya akan mulai mengevaluasi kejadian kemarin sampai-sampai saya dua kali jatuh pingsan. Pertama, ternyata Piki benar-benar cinta pada saya (meski pun Cyta telah memberitahu saya jauh sebelum kejadian semalam). Kedua, saya bisa mendengar apa pun yang tidak dikatakan, dan tidak hanya manusia yang bisa saya dengar karena Cyta bukan manusia. Permainan apa lagi yang Tuhan ciptakan untuk saya? Sungguh, seperti bukan dunia saya. Tapi saya berada di dunia saya sendiri. Apa keinginan Tuhan.....
“Pagi Bu...”
Ngapain sih pake nyapa-nyapa segala. Cari perhatian banget!
“Pagi Lucy..”
Oh GOD! Terjadi lagi! Telinga saya tidak bermasalah, atau justru bermasalah. Sungguh semua kejadian ini membuat saya bingung. Tidak pernah saya sebelum ini mampu mendengar apa yang tidak dikatakan.
“Itu kelebihan baru kamu Luc, terima lah. Tuhan sayang kamu.”
“Tapi Cyta, saya tidak terbiasa oleh ini semua. Saya ingin menjadi manusia biasa saja.”
“Nikmati lah kenikmatan Tuhan Lucy.”
Oke, nikmati lah kenikmatan Tuhan. Nikmati lha. Nikmati. Nikmati. Nikmati. Nik. Mati.
***
Saya ingin memutar kembali kejadian-kejadian yang telah berlangsung. Saya ingin memutar kembali saat saya tidak mengenal Cyta. Saya ingin memutar kembali saat saya tidak mengenal Piki. Saya ingin memutar kembali saat saya tidak mengenal diri saya. Saya ingin memutar kembali saat saya tidak mengenal Tuhan. Saya ingin.
Tidak mungkin Tuhan mengabulkan keinginan saya untuk itu. Tidak mungkin. Karena ini bukan dunia dongeng, ini nyata. Sungguh nyata, sehingga saya tidak ingin hidup di dunia ini. Tapi itu juga tidak mungkin, saya sendiri tidak memiliki keberanian untuk mengakhiri hidup saya.
Kamar ini, seharusnya kamar ini menjadi tempat tinggal yang sangat nyaman untuk saya. Tapi tidak setelah Piki menyatakan cintanya pada saya. Karena saya merasa, saya dan Piki tidak seharusnya saling mencintai antara wanita, meski pun saya juga mencintai Piki. Kamar ini, masih penuh oleh aroma saya dan Piki. Aroma tubuh kami berdua. Tidak mungkin saya meninggalkan kamar ini, karena saya begitu menyenangi aroma kamar ini. Dan tidak mungkin juga saya mengusir Piki untuk pergi dari kamar ini, karena saya tidak bisa hidup tanpa Piki.
Oh, sahabat jiwa raga yang saya cinta, mengapa kamu sunggu membuat saya tidak nyaman di kamar ini. Dengan kehadiranmu. Dengan gerak-gerikmu. Dengan ucapanmu. Dengan tatapanmu. Tapi saya juga tidak sanggup jika kamu meninggalkan saya. Sahabat jiwa raga yang saya cinta, ajari saya untuk bisa menjalani hidup setelah semua kejadian ini. Setelah kamu menyatakan cintamu.
***
“Maafkan diri yang lancang ini, yang telah membuat kamu tidak merasa nyaman berada dalam satu atap dengan diri ini.”
“Tidak ada yang bersalah. Semua baik-baik saja. Setidaknya kamu jujur pada saya.”
“Sungguh kah itu?”
“Ya.”
Ya? Sungguh kah saya mengucapkan itu dengan jujur? Tidak. Saya tidak jujur. Saya termakan oleh kebencian saya sendiri oleh manusia yang tak pernah jujur pada orang lain mau pun diri sendiri. Saya pun munafik. Saya pembohong. Saya tidak bisa mengatakan kalau saya sebenarnya terusik dengan Piki, karena dia mencintai saya. Memang saya mencintai dia, tapi tak lebih dari seorang sahabat. Saya tidak mungkin mencintai dia sebagai wanita, karena kami sesama perempuan. Saya masih normal dan mampu mencintai laki-laki. Hanya laki-laki. Bukan perempuan.
Tuhan. Maafkan kebohongan saya.
Piki. Maafkan kebohongan saya.
“Saya ingin berjalan-jalan. Sore ini cerah.”
Saya tidak melihat atau pun mendengar Piki ingin ikut saya jalan-jalan sore. Syukur lah, saya ingin sendiri saat ini. Saya juga tidak melihat Cyta seharian ini, mungkin memang dia sengaja untuk tidak mengganggu saya. Dia sangat mengerti saya. Karena dia bukan manusia.
Haduh! Tugas belum selesai-selesai. Pusing!
Ya ampun, angkat dong teleponnya. Sampai kapan kamu mau marah sama aku?
Nyebelin banget. Sok cantik. Sok kaya. Padahal nggak ada apa-apanya dari aku.
Aku cinta kamu Luc, sungguh.
Sabar sabar.
Bla.. bla.. bla... bla... blaa... blaaaa.... blaaaaa....
“STOP STOPPP!!! Tuhaannnn, saya tidak sanggup!”
Demi apa pun di dunia ini! Saya merasa melihat dunia ini seakan telanjang. Manusia tidak satu pun memakai pakaian untuk menutupi lekuk tubuh mereka. Aku merasa begitu malu untuk menatap manusia-manusia, terlebih saat mereka berbohong. Terasa sangat jelas dalam pengelihatan saya manusia-manusia ini begitu polos tanpa sehelai benang pun. Mengapa Tuhan membiarkan saya melihat kepolosan para manusia ini? Mengapa pula Tuhan membiarkan manusia-manusia ini tidak berpakaian? Mengapa tidak satu helai pun menempel pada tubuh mereka? Mengapa Tuhan membiarkannya, justru menyuruh saya untuk menyaksikan ini semua?
“Karena kamu istimewa Lucy. Karena Tuhan memberikanmu kenikmatan yang tidak Ia berikan pada manusia lain. Seharusnya kamu bersyukur atas semua ini.”
“Apa katamu? Bersyukur? Tuhan kira, saya senang dengan semua kenikmatan yang Ia berikan pada saya? TIDAK! Saya tidak senang!”
“Terkutuk lah kamu Lucy.”
“Tunggu.. tunggu. Cyta! Bukan maksud saya....”
Cyta meninggalkan saya. Cyta menghilang. Lantas apa yang harus saya lakukan, sedangkan saya terus melihat ketelanjangan para manusia-manusia ini. Saya terus mendengar segala ucapan-ucapan yang tidak mereka katakan. Dan Cyta meninggalkan saya dengan segala kebingungan saya. Padahal hanya dia yang bisa membantu saya, karena dia tahu segalanya, karena dia bukan manusia.
“Sayang, makan lah ini. Aku sudah masak buat kamu. Lambung kamu belum terisi sejak kamu pingsan kemarin.”
“Iya nanti saya makan.”
Tuhan, saya kembali berbohong pada diri saya sendiri dan tentunya Piki. Dan Tuhan, saya sendiri pun sudah kau buat telanjang seperti manusia-manusia itu. Membuat saya ingin memecahkan seluruh cermin di kamar ini dan menggoreskannya di urat nadi saya sehingga saya tidak lagi melihat seluruh ketelanjangan manusia-manusia dan juga diri saya sendiri. Sungguh, saya malu dengan ketelanjangan saya, walau pun mungkin tidak satu pun manusia melihat saya telanjang. Tapi cermin ini memantulkan diri saya utuh tanpa sehelai benang pun, sudah cukup membuat saya malu. Saya malu. Saya seperti manusia-manusia lain. Saya pembohong.
PRAK!
“Kenapa kamu pecahkan cermin itu, Beb?”
“Selamat tinggal sahabat jiwa raga yang saya cinta. Selamat tinggal dunia.”
***


0 komentar:

Posting Komentar