SABTU MALAM
Sabtu malam musik keras tiba-tiba
menyeruak. Saat itu masih pukul tujuh malam, seharusnya suasana masih sunyi di
ruangan itu. Yang ada hanya para pegawai yang membersihkan ruangan, para penari
sedang bermakeup, dan saya sedang
melamun. Tapi semua itu tidak berlaku malam ini, musik keras sudah memekakan
telinga, ruangan sudah penuh dengan manusia, para penari sudah meliukan
badannya, kecuali saya yang tetap melamun. Malam itu ada artis yang menjadi
bintang tamu, malam itu semua siap, sangat siap.
Malam itu, di ruangan itu saya
sendiri (kembali sendiri). Saya tak peduli. Saya merokok. Saya minum. Saya
berjoget. Saya minum. Saya merokok. Saya limbung. Saya tumbang. Untuk pertama
kalinya saya tumbang. Memalukan. Mereka melihat saya. Mereka tertawa. Saya
tertawa. Kami semua tertawa. Tapi tetap, saya tak mampu bangkit.
Malam itu, sabtu malam pukul sepuluh
malam. Saya belum tumbang. Dan saya masih melamun. Saya belum merokok dan
minum. Saya masih sadar. Dan saya tidak sendiri. Saya bersama seorang lelaki.
Lekaki tampan dengan jins dan kemeja khasnya, dia berantakan tapi rapi.
Sedangkan saya, memakai dress pendek atas lutut 15 cm, tak berlengan dan
memiliki belahan dada, membuat liur sedikit demi sedikit keluar dari mulut
lelaki. Sungguh seksi. Kami pasangan serasi. Dia mengajakku meliukan badan di
tengah-tengah keramaian manusia ruangan itu. Ini kesukaan saya. Dia memberi
saya minuman, yang saya tahu kemudian bahwa itu adalah whiskey. Sampai akhirnya
pandangan saya kabur. Dia berjalan menjauhi saya, dan.
***
Saat itu remang-remang lampu masih
terang. Saya sedang bersolek di depan cermin sebuah ruangan 5x5 meter dengan suite toilet, satu bed extra large, serta pendingin ruangan. Saya memadu padankan
warna baju dengan sepatu, saya ingin terlihat seksi malam nanti. Saat itu baru
pukul tiga sore. Masih ada beberapa waktu lagi menuju pesta malam nanti.
Kemudian saya dirundung galau untuk model rambut. Ikat atau gerai. Saya ingin
terlihat seksi malam ini.
Saya berkaca pada cermin berukuran
2x1 meter. Terlihatlah seluruh tubuh saya tanpa sehelai benang pun. Sangat
proporsional. Perfect. Saya pakai baju dress pendek atas lutut 15 cm dengan
warna merah menyala, sangat kontras dengan warna kulit saya yang putih mulus
tanpa belang. Begitu pula dengan sepatu highless
tinggi 15 cm berwarna merah menyala. Rambut ikal saya akhirnya saya gerai untuk
menambah kesan seksi. Dan..
Ting
tong!
Terlihatlah seorang lelaki tampan
dengan paduan kemeja putih khasnya dan celana jins. Sungguh tampan. Rambut
cepak jabrik yang mungkin dia beri gel agar kesan berantakannya tetap bertahan
sampai lama. Sepatu vans putih menambah kesan cool pada dirinya. Perfect.
Senyum. Senyum itu yang selalu
membuat saya luluh dan bergelayut manja padanya. Dia mengecup bibir indah yang
telah saya poles dengan lipstik pink. Kecupan hangat untuk memulai sesuatu yang
panas, namun tidak untuk sekarang. Mungkin nanti, mungkin tengah malam nanti
seperti yang biasa dia lakukan. Kami akhirnya meluncur. Kira-kira butuh dua jam
untuk sampai di tempat, karena macet yang setiap kali menghampiri. Beginilah
kota metropolitan.
***
Sabtu malam, saat itu pukul tujuh
malam. Musik sudah memekakan telinga, seharusnya suasana masih sunyi di ruangan
itu. Yang ada hanya para pegawai yang membersihkan ruangan, para penari sedang
bermakeup, dan saya sedang melamun.
Tapi semua itu tidak berlaku malam ini, musik keras sudah memekakan telinga,
ruangan sudah penuh dengan manusia, para penari sudah meliukan badannya,
kecuali saya yang tetap melamun. Malam itu ada artis yang menjadi bintang tamu,
malam itu semua siap, sangat siap.
Malam itu saya tidak sendiri. Saya
bersama seorang lelaki. Lekaki tampan dengan jins dan kemeja khasnya, dia
berantakan tapi rapi. Sedangkan saya, memakai dress pendek atas lutut 15 cm,
tak berlengan dan memiliki belahan dada, membuat liur sedikit demi sedikit
keluar dari mulut lelaki. Sungguh seksi. Kami pasangan serasi. Dia kembali
mengecup bibir saya yang sudah saya polesi dengan lipstik berwarna pink. Kali
ini lebih hangat dari kecupannya saat di kamar saya. Saya lihat manusia-manusia
berpakaian mulai memenuhi ruangan berpendingin namun panas ini. Kepulan asap
rokok sudah terlihat sejauh mata memandang. Liukan-liukan para penari juga
sudah dimulai sedari setengah jam yang lalu, diikuti oleh para manusia
berpakaian yang datang ke pesta sabtu malam ini. Petugas bartender mulai melakukan aksinya, melempar-lempar botol tanpa
melihat botol yang dilempar, dan tanpa melakukan kesalahan. Walaupun banyak
wanita yang menggodanya agar dia membuat kesalahan pada aksinya. Botol-botol
minuman sudah mulai tergeletak di setiap meja yang dipesan. Botol-botol minuman
sudah mulai banyak terlihat pada setiap manusia berpakaian yang sedang
menentengnya.
Lelaki saya memesan satu minuman beserta
botolnya. Dia menuangkannya pada gelas saya, namun saya menolaknya. Saya ingin
merasa sadar untuk menghabiskan sabtu malam ini dengannya. Kembali, jurus
mautnya dia keluarkan. Dia kembali mengecup bibir yang telah saya polesi
lipstik berwarna pink, kali ini dengan desahan-desahan kecilnya. Saya
membalasnya dengan tak kalah hebat, membuatnya merasa lebih tertantang. Saya
membatasinya, karena saya melihat baru pukul setengah sepuluh malam. Dia
kembali menuangkan minuman ke gelas saya. Saya melihat sesuatu. Saya melamun.
***
Malam itu, sabtu malam pukul sepuluh
malam. Saya belum tumbang. Dan saya masih melamun. Saya belum merokok dan
minum. Saya masih sadar. Dan saya tidak sendiri. Saya bersama seorang lelaki.
Lekaki tampan dengan jins dan kemeja khasnya, dia berantakan tapi rapi.
Sedangkan saya, memakai dress pendek atas lutut 15 cm, tak berlengan dan
memiliki belahan dada, membuat liur sedikit demi sedikit keluar dari mulut
lelaki. Sungguh seksi. Kami pasangan serasi. Dia mengajakku meliukan badan di tengah-tengah
keramaian manusia ruangan itu. Ini kesukaan saya. Dia memberi saya minuman,
yang saya tahu kemudian bahwa itu adalah whiskey. Sampai akhirnya pandangan
saya kabur. Dia berjalan menjauhi saya, dan dia mendekati seorang wanita dengan
rambut lurus berwarna kecoklatan, mengenakan pakaian tanktop beserta hotpants
berwarna senada dengan sepatu wedgesnya
yang berwarna hitam mengkilap. Wanita itu tersenyum manja pada lelaki saya.
Lelaki saya pun tersenyum kepadanya. Dia mengecup bibir wanita itu yang sudah
dipolesi lipstik berwarna merah. Saya rasa itu kecupan panas. Saya bisa lihat
walaupun dengan pandangan kabur, mereka sangat menikmati tiap-tiap kecupan yang
mereka lakukan. Mereka bercumbu di depan saya ketika saya semakin limbung oleh
minuman. Saya tumbang.
***
Sabtu malam musik keras tiba-tiba
menyeruak. Saat itu masih pukul tujuh malam, seharusnya suasana masih sunyi di
ruangan itu. Yang ada hanya para pegawai yang membersihkan ruangan, para penari
sedang bermakeup, dan saya sedang
melamun. Tapi semua itu tidak berlaku malam ini, musik keras sudah memekakan
telinga, ruangan sudah penuh dengan manusia, para penari sudah meliukan
badannya, kecuali saya yang tetap melamun. Malam itu ada artis yang menjadi
bintang tamu, malam itu semua siap, sangat siap.
Malam itu, di ruangan itu saya
sendiri (kembali sendiri). Saya tak peduli. Saya merokok. Saya minum. Saya
berjoget. Saya minum. Saya merokok. Saya limbung. Saya tumbang. Untuk pertama
kalinya saya tumbang. Memalukan. Mereka melihat saya. Mereka tertawa. Saya
tertawa. Kami semua tertawa. Tapi tetap, saya tak mampu bangkit.
Purwokerto, 1 Juli 2013
Sebuah
tulisan di tengah-tengah ujian semester 4



0 komentar:
Posting Komentar