This awesome blogger theme comes under a Creative Commons license. They are free of charge to use as a theme for your blog and you can make changes to the templates to suit your needs.
RSS

Sabtu Malam (Cerpen)

SABTU MALAM

            Sabtu malam musik keras tiba-tiba menyeruak. Saat itu masih pukul tujuh malam, seharusnya suasana masih sunyi di ruangan itu. Yang ada hanya para pegawai yang membersihkan ruangan, para penari sedang bermakeup, dan saya sedang melamun. Tapi semua itu tidak berlaku malam ini, musik keras sudah memekakan telinga, ruangan sudah penuh dengan manusia, para penari sudah meliukan badannya, kecuali saya yang tetap melamun. Malam itu ada artis yang menjadi bintang tamu, malam itu semua siap, sangat siap.
            Malam itu, di ruangan itu saya sendiri (kembali sendiri). Saya tak peduli. Saya merokok. Saya minum. Saya berjoget. Saya minum. Saya merokok. Saya limbung. Saya tumbang. Untuk pertama kalinya saya tumbang. Memalukan. Mereka melihat saya. Mereka tertawa. Saya tertawa. Kami semua tertawa. Tapi tetap, saya tak mampu bangkit.
            Malam itu, sabtu malam pukul sepuluh malam. Saya belum tumbang. Dan saya masih melamun. Saya belum merokok dan minum. Saya masih sadar. Dan saya tidak sendiri. Saya bersama seorang lelaki. Lekaki tampan dengan jins dan kemeja khasnya, dia berantakan tapi rapi. Sedangkan saya, memakai dress pendek atas lutut 15 cm, tak berlengan dan memiliki belahan dada, membuat liur sedikit demi sedikit keluar dari mulut lelaki. Sungguh seksi. Kami pasangan serasi. Dia mengajakku meliukan badan di tengah-tengah keramaian manusia ruangan itu. Ini kesukaan saya. Dia memberi saya minuman, yang saya tahu kemudian bahwa itu adalah whiskey. Sampai akhirnya pandangan saya kabur. Dia berjalan menjauhi saya, dan.

***
            Saat itu remang-remang lampu masih terang. Saya sedang bersolek di depan cermin sebuah ruangan 5x5 meter dengan suite toilet, satu bed extra large, serta pendingin ruangan. Saya memadu padankan warna baju dengan sepatu, saya ingin terlihat seksi malam nanti. Saat itu baru pukul tiga sore. Masih ada beberapa waktu lagi menuju pesta malam nanti. Kemudian saya dirundung galau untuk model rambut. Ikat atau gerai. Saya ingin terlihat seksi malam ini.
            Saya berkaca pada cermin berukuran 2x1 meter. Terlihatlah seluruh tubuh saya tanpa sehelai benang pun. Sangat proporsional. Perfect. Saya pakai baju dress pendek atas lutut 15 cm dengan warna merah menyala, sangat kontras dengan warna kulit saya yang putih mulus tanpa belang. Begitu pula dengan sepatu highless tinggi 15 cm berwarna merah menyala. Rambut ikal saya akhirnya saya gerai untuk menambah kesan seksi. Dan..
Ting tong!
            Terlihatlah seorang lelaki tampan dengan paduan kemeja putih khasnya dan celana jins. Sungguh tampan. Rambut cepak jabrik yang mungkin dia beri gel agar kesan berantakannya tetap bertahan sampai lama. Sepatu vans putih menambah kesan cool pada dirinya. Perfect.
            Senyum. Senyum itu yang selalu membuat saya luluh dan bergelayut manja padanya. Dia mengecup bibir indah yang telah saya poles dengan lipstik pink. Kecupan hangat untuk memulai sesuatu yang panas, namun tidak untuk sekarang. Mungkin nanti, mungkin tengah malam nanti seperti yang biasa dia lakukan. Kami akhirnya meluncur. Kira-kira butuh dua jam untuk sampai di tempat, karena macet yang setiap kali menghampiri. Beginilah kota metropolitan.
***
            Sabtu malam, saat itu pukul tujuh malam. Musik sudah memekakan telinga, seharusnya suasana masih sunyi di ruangan itu. Yang ada hanya para pegawai yang membersihkan ruangan, para penari sedang bermakeup, dan saya sedang melamun. Tapi semua itu tidak berlaku malam ini, musik keras sudah memekakan telinga, ruangan sudah penuh dengan manusia, para penari sudah meliukan badannya, kecuali saya yang tetap melamun. Malam itu ada artis yang menjadi bintang tamu, malam itu semua siap, sangat siap.
            Malam itu saya tidak sendiri. Saya bersama seorang lelaki. Lekaki tampan dengan jins dan kemeja khasnya, dia berantakan tapi rapi. Sedangkan saya, memakai dress pendek atas lutut 15 cm, tak berlengan dan memiliki belahan dada, membuat liur sedikit demi sedikit keluar dari mulut lelaki. Sungguh seksi. Kami pasangan serasi. Dia kembali mengecup bibir saya yang sudah saya polesi dengan lipstik berwarna pink. Kali ini lebih hangat dari kecupannya saat di kamar saya. Saya lihat manusia-manusia berpakaian mulai memenuhi ruangan berpendingin namun panas ini. Kepulan asap rokok sudah terlihat sejauh mata memandang. Liukan-liukan para penari juga sudah dimulai sedari setengah jam yang lalu, diikuti oleh para manusia berpakaian yang datang ke pesta sabtu malam ini. Petugas bartender mulai melakukan aksinya, melempar-lempar botol tanpa melihat botol yang dilempar, dan tanpa melakukan kesalahan. Walaupun banyak wanita yang menggodanya agar dia membuat kesalahan pada aksinya. Botol-botol minuman sudah mulai tergeletak di setiap meja yang dipesan. Botol-botol minuman sudah mulai banyak terlihat pada setiap manusia berpakaian yang sedang menentengnya.
            Lelaki saya memesan satu minuman beserta botolnya. Dia menuangkannya pada gelas saya, namun saya menolaknya. Saya ingin merasa sadar untuk menghabiskan sabtu malam ini dengannya. Kembali, jurus mautnya dia keluarkan. Dia kembali mengecup bibir yang telah saya polesi lipstik berwarna pink, kali ini dengan desahan-desahan kecilnya. Saya membalasnya dengan tak kalah hebat, membuatnya merasa lebih tertantang. Saya membatasinya, karena saya melihat baru pukul setengah sepuluh malam. Dia kembali menuangkan minuman ke gelas saya. Saya melihat sesuatu. Saya melamun.
***
            Malam itu, sabtu malam pukul sepuluh malam. Saya belum tumbang. Dan saya masih melamun. Saya belum merokok dan minum. Saya masih sadar. Dan saya tidak sendiri. Saya bersama seorang lelaki. Lekaki tampan dengan jins dan kemeja khasnya, dia berantakan tapi rapi. Sedangkan saya, memakai dress pendek atas lutut 15 cm, tak berlengan dan memiliki belahan dada, membuat liur sedikit demi sedikit keluar dari mulut lelaki. Sungguh seksi. Kami pasangan serasi. Dia mengajakku meliukan badan di tengah-tengah keramaian manusia ruangan itu. Ini kesukaan saya. Dia memberi saya minuman, yang saya tahu kemudian bahwa itu adalah whiskey. Sampai akhirnya pandangan saya kabur. Dia berjalan menjauhi saya, dan dia mendekati seorang wanita dengan rambut lurus berwarna kecoklatan, mengenakan pakaian tanktop beserta hotpants berwarna senada dengan sepatu wedgesnya yang berwarna hitam mengkilap. Wanita itu tersenyum manja pada lelaki saya. Lelaki saya pun tersenyum kepadanya. Dia mengecup bibir wanita itu yang sudah dipolesi lipstik berwarna merah. Saya rasa itu kecupan panas. Saya bisa lihat walaupun dengan pandangan kabur, mereka sangat menikmati tiap-tiap kecupan yang mereka lakukan. Mereka bercumbu di depan saya ketika saya semakin limbung oleh minuman. Saya tumbang.
***
            Sabtu malam musik keras tiba-tiba menyeruak. Saat itu masih pukul tujuh malam, seharusnya suasana masih sunyi di ruangan itu. Yang ada hanya para pegawai yang membersihkan ruangan, para penari sedang bermakeup, dan saya sedang melamun. Tapi semua itu tidak berlaku malam ini, musik keras sudah memekakan telinga, ruangan sudah penuh dengan manusia, para penari sudah meliukan badannya, kecuali saya yang tetap melamun. Malam itu ada artis yang menjadi bintang tamu, malam itu semua siap, sangat siap.
            Malam itu, di ruangan itu saya sendiri (kembali sendiri). Saya tak peduli. Saya merokok. Saya minum. Saya berjoget. Saya minum. Saya merokok. Saya limbung. Saya tumbang. Untuk pertama kalinya saya tumbang. Memalukan. Mereka melihat saya. Mereka tertawa. Saya tertawa. Kami semua tertawa. Tapi tetap, saya tak mampu bangkit.

Purwokerto, 1 Juli 2013
Sebuah tulisan di tengah-tengah ujian semester 4


0 komentar:

Posting Komentar