Aku
tak ingin kalian terus saling menekan. Aku benci melihat dan merasakan semua
ini. Lelah. Hei.. lelah!
Kegamangan
ini membuatku gamang. Ketika logika dan perasaan tak boleh kugunakan saat yang
bersamaan. Menyiksa. Sungguh. Namun harus.
Sosok
itu yang mengajariiku, walau aku tak meminta. Sosok itu yang memberiku kekuatan
untuk bersama menjalani keintiman semua ini. Ya sosok itu.
Aku
tak tahu apa hanya aku, atau tidak. Aku tak peduli. Aku merasakan sesuatu yang
lain di luar logika. Ya, lagi-lagi perasaanku membawaku pada suasana yang
sebenarnya tak ingin aku rasakan saat keintiman ini sedang terjadi.
Helaan
nafas mengingatkanku akan kegelisahan sosok itu di depanku. Kegelisahan yang
membuat keintiman ini menjadi lebih intim dan intim lagi. Aku mengerti. Tapi tak
mengerti.
Sempat
aku lontarkan perasaanku, dalam hatiku. Tentu, aku tak bicara. Aku bicara pada
mata, dia membalasnya. Mata sayu yang selalu membuatku ingat akan pengorbanan
yang dia beri untukku (untuk kami). Beberapa kata dari sosok itu yang selalu
meresap pada logika dan perasaanku. Dan mungkin akan aku lakukan.
Mungkin.
*cinta
bukanlah cinta jika diucapkan. Namanya cinta jika mampu menyampaikannya*



0 komentar:
Posting Komentar