Pria mengatakan bahwa dia mencintai saya dengan sepenuh hati. Dia juga mengatakan bahwa hanya dialah yang mampu membuat saya jatuh cinta pada lelaki. Dia pun mengatakan bahwa hanya sayalah yang sanggup memuaskan segalanya untuk dia. Pada akhirnya dia pula lah yang mengatakan bahwa saya tidak pantas untuk dia, hanya karena kesalahan kecil pada saat kami bercinta.
0
komentar
MANUSIA BERPENIS (Cerpen)
Label: cerpen
Malam.
Lelaki. Saya.
Saya sendiri malam ini. Ditemani
gemericik air keran kamar mandi yang saya biarkan terbuka untuk memecahkan
kesunyian malam. Saya sendiri malam ini. Ditemani gongongan anjing sebelah
rumah yang paham tentang kesendirianku malam ini. Saya sendiri malam ini.
Ditemani bunyi detik jarum jam kamar saya yang semakin melambat karena baterai
yang sudah sekarat. Ya. Saya sendiri malam ini.
Malam
saya tidak lagi ditemani oleh seorang manusia yang mampu membuat saya panas
seketika, meski hari sedang hujan lebat sekalipun. Malam saya tidak lagi
ditemani oleh kicauan suara seorang manusia yang selalu membuat saya bising
akibat lenguhan nikmatnya. Malam saya tidak lagi ditemani oleh rabaan halus
seorang manusia yang mampu membuat saya orgasme tiga kali berturut-turut malam
itu. Ya. Malam ketika saya tidak sendiri. Ketika seorang manusia berpenis
menemani saya di kamar ini. Kamar dimana menjadi saksi kenikmatan kami berdua.
0
komentar
Diposting oleh
Mega Ayuu Puspitaa
di
22.04
HARI SABTU (Cerpen Anak-Remaja)
Label: cerpen
Ketika
itu hari sabtu, Andi sudah bersiap-siap memanasi motor milik sang kakak. Tentu
tanpa sepengetahuan sang kakak, karena kakak Andi sedang berkemah di
sekolahnya. Sabtu itu, Andi berencana akan bermain bersama kawan-kawan
sebayanya ke suatu pantai di luar kota. Padahal, Andi masih duduk di kelas tiga
SMP dan jelas belum memiliki Surat Izin Mengemudi (SIM). Ibu Andi sudah
melarangnya berkali-kali untuk tidak pergi jauh-jauh, namun karena kawan-kawan
yang memaksa, Andi pun menuruti kemauan kawn-kawannya itu.
Pagi
itu jam sudah menunjukkan angka enam tepat, Andi melajukan motornya menuju
rumah Sinta, di sanalah rombongan kawan Andi berkumpul. Tidak ada satu pun dari
mereka yang diizinkan oleh oerang tua masing-masing untuk pergi hari itu,
terlebih Sinta, orang tua Sinta justru tidak mengetahui bahwa anaknya akan
bepergian hari itu, karena orang tua Sinta sedang di luar kota. Setelah semua
rombongan lengkap, berangkatlah mereka ke pantai yang dituju.
0
komentar
Diposting oleh
Mega Ayuu Puspitaa
di
22.01
Dia, Salsabila (cerpen)
Label: cerpen
Saya adalah manusia. Ya, manusia.
Namun tidak semua orang di sekitar saya mengakui bahwa saya adalah manusia.
Entahlah, mereka yang pintar, terlalu pintar, atau justru bodoh. Saya tidak
terlalu peduli dengan mereka yang mengaku sebagai manusia, namun tidak
mempunyai naluri seperti manusia. Mereka yang selalu dan selalu mengucilkan
saya entah apa sebabnya, dan saya juga tidak mau tahu dengan sebabnya, saya
tidak peduli. Karena menurut saya, saya punya anggota tubuh yang lengkap,
berjalan selayaknya manusia, mempunyai akal dan perasaan, lantas, mengapa
mereka tidak menganggap saya manusia seperti mereka? Dan satu lagi, saya juga
memiliki nafsu sama seperti mereka.
0
komentar
Diposting oleh
Mega Ayuu Puspitaa
di
05.07
Sabtu Malam (Cerpen)
Label: cerpen
SABTU MALAM
Sabtu malam musik keras tiba-tiba
menyeruak. Saat itu masih pukul tujuh malam, seharusnya suasana masih sunyi di
ruangan itu. Yang ada hanya para pegawai yang membersihkan ruangan, para penari
sedang bermakeup, dan saya sedang
melamun. Tapi semua itu tidak berlaku malam ini, musik keras sudah memekakan
telinga, ruangan sudah penuh dengan manusia, para penari sudah meliukan
badannya, kecuali saya yang tetap melamun. Malam itu ada artis yang menjadi
bintang tamu, malam itu semua siap, sangat siap.
Malam itu, di ruangan itu saya
sendiri (kembali sendiri). Saya tak peduli. Saya merokok. Saya minum. Saya
berjoget. Saya minum. Saya merokok. Saya limbung. Saya tumbang. Untuk pertama
kalinya saya tumbang. Memalukan. Mereka melihat saya. Mereka tertawa. Saya
tertawa. Kami semua tertawa. Tapi tetap, saya tak mampu bangkit.
Malam itu, sabtu malam pukul sepuluh
malam. Saya belum tumbang. Dan saya masih melamun. Saya belum merokok dan
minum. Saya masih sadar. Dan saya tidak sendiri. Saya bersama seorang lelaki.
Lekaki tampan dengan jins dan kemeja khasnya, dia berantakan tapi rapi.
Sedangkan saya, memakai dress pendek atas lutut 15 cm, tak berlengan dan
memiliki belahan dada, membuat liur sedikit demi sedikit keluar dari mulut
lelaki. Sungguh seksi. Kami pasangan serasi. Dia mengajakku meliukan badan di
tengah-tengah keramaian manusia ruangan itu. Ini kesukaan saya. Dia memberi
saya minuman, yang saya tahu kemudian bahwa itu adalah whiskey. Sampai akhirnya
pandangan saya kabur. Dia berjalan menjauhi saya, dan.
0
komentar
Diposting oleh
Mega Ayuu Puspitaa
di
03.00
Permainan Pembalasan (Cerpen)
Label: cerpen
Tangannya
dengan sigap membuka seluruh kancing yang ada di bagian depan tubuh gadis
mungil itu. Terlihat sorot tak berdaya dari mata sang gadis, merasa tak nyaman,
namun tak sanggup menolak. Hanya bisa pasrah, menuruti apa kehendak sang lelaki
itu.
Kancing
bajupun telah terlepas semua, dan yang terlihat sekarang adalah bra sang gadis
beserta isinya. Wajah bernafsu tinggi itupun langsung menubruk sang gadis
hingga ia terbentur oleh tembok di belakangnya. Namun lelaki itu tak
menghiraukan aduhan sang gadis. Ia hanya terus melahap habis apa yang ada
dihadapannya itu. Yap! Buah dada padat berisi milik sang gadis.
Ia
remas-remas, ia jilati puting susunya, dan ia sedot kulit buah dada yang putih
bersih itu sampai menanggalkan bekas merah keunguan, karena terlalu lama
disedot. Kini tangan sang lelaki menjamah bagian bawah sang gadis. Dengan
pasti, ia membuka resleting belakang rok sang gadis hingga robek, saking
kerasnya ia membuka paksa.
0
komentar
Diposting oleh
Mega Ayuu Puspitaa
di
05.40
LUCY (cerpen)
Label: cerpen
LUCY
Manusia.
Manusia di dunia ini tidak ada yang sempurna. Lebih tepatnya, tidak ada yang
jujur. Kejujuran sama sekali tidak dimiliki oleh manusia mana pun di dunia ini.
Jangankan untuk orang lain, untuk diri sendiri pun manusia tidak mampu jujur.
Entah apa yang membuat manusia tidak jujur, saya pun tidak mengerti (walau pun
saya juga manusia).
Saya mempunyai sahabat yang sangat
saya cintai melebihi apa pun di dunia ini. Piki. Saya sendiri lupa sejak kapan
saya mencintai dia melebihi apa pun di dunia ini, dan saya juga tahu dia pun
mencintai saya (meski kami sesama perempuan). Dan dia manusia, sama seperti
saya. Dia juga tidak jujur, sama seperti manusia lainnya. Namun tidak seperti
Cyta, seorang perempuan berwajah cantik, manis, dan lembut. Entah sejak kapan ia
terus mengikuti saya kemana pun saya pergi. Dia pun mencintai saya, meski dia
bukan manusia. Dan dia bukan pembohong seperti manusia, untuk itu saya percaya
terhadapnya.
Langganan:
Postingan (Atom)


