This awesome blogger theme comes under a Creative Commons license. They are free of charge to use as a theme for your blog and you can make changes to the templates to suit your needs.
RSS

Permainan Pembalasan (Cerpen)

Tangannya dengan sigap membuka seluruh kancing yang ada di bagian depan tubuh gadis mungil itu. Terlihat sorot tak berdaya dari mata sang gadis, merasa tak nyaman, namun tak sanggup menolak. Hanya bisa pasrah, menuruti apa kehendak sang lelaki itu.
Kancing bajupun telah terlepas semua, dan yang terlihat sekarang adalah bra sang gadis beserta isinya. Wajah bernafsu tinggi itupun langsung menubruk sang gadis hingga ia terbentur oleh tembok di belakangnya. Namun lelaki itu tak menghiraukan aduhan sang gadis. Ia hanya terus melahap habis apa yang ada dihadapannya itu. Yap! Buah dada padat berisi milik sang gadis.
Ia remas-remas, ia jilati puting susunya, dan ia sedot kulit buah dada yang putih bersih itu sampai menanggalkan bekas merah keunguan, karena terlalu lama disedot. Kini tangan sang lelaki menjamah bagian bawah sang gadis. Dengan pasti, ia membuka resleting belakang rok sang gadis hingga robek, saking kerasnya ia membuka paksa.
0 komentar

LUCY (cerpen)

LUCY
Manusia. Manusia di dunia ini tidak ada yang sempurna. Lebih tepatnya, tidak ada yang jujur. Kejujuran sama sekali tidak dimiliki oleh manusia mana pun di dunia ini. Jangankan untuk orang lain, untuk diri sendiri pun manusia tidak mampu jujur. Entah apa yang membuat manusia tidak jujur, saya pun tidak mengerti (walau pun saya juga manusia).
            Saya mempunyai sahabat yang sangat saya cintai melebihi apa pun di dunia ini. Piki. Saya sendiri lupa sejak kapan saya mencintai dia melebihi apa pun di dunia ini, dan saya juga tahu dia pun mencintai saya (meski kami sesama perempuan). Dan dia manusia, sama seperti saya. Dia juga tidak jujur, sama seperti manusia lainnya. Namun tidak seperti Cyta, seorang perempuan berwajah cantik, manis, dan lembut. Entah sejak kapan ia terus mengikuti saya kemana pun saya pergi. Dia pun mencintai saya, meski dia bukan manusia. Dan dia bukan pembohong seperti manusia, untuk itu saya percaya terhadapnya.
0 komentar

Sepenggal tulisan saat berjalannya keintiman yang semakin intim 2


Aku tak mengerti kenapa perasaanku kembali aktif ketika sosok itu melihatku, walau dari kejauhan. Kenapa tidak logikaku saja yang aktif? Aku tak mengerti, ketika sosok itu menyapaku, ada getaran tersendiri yang menyetrum tubuhku. Kembali, logikaku tak sedang aktif saat itu.

Dia. Ya sosok itu.

*cinta bukanlah cinta jika diucapkan. Namanya cinta jika mampu menyampaikannya*
0 komentar

Sepenggal tulisan saat berjalannya keintiman yang semakin intim


Aku tak ingin kalian terus saling menekan. Aku benci melihat dan merasakan semua ini. Lelah. Hei.. lelah!
Kegamangan ini membuatku gamang. Ketika logika dan perasaan tak boleh kugunakan saat yang bersamaan. Menyiksa. Sungguh. Namun harus.
Sosok itu yang mengajariiku, walau aku tak meminta. Sosok itu yang memberiku kekuatan untuk bersama menjalani keintiman semua ini. Ya sosok itu.
Aku tak tahu apa hanya aku, atau tidak. Aku tak peduli. Aku merasakan sesuatu yang lain di luar logika. Ya, lagi-lagi perasaanku membawaku pada suasana yang sebenarnya tak ingin aku rasakan saat keintiman ini sedang terjadi.
Helaan nafas mengingatkanku akan kegelisahan sosok itu di depanku. Kegelisahan yang membuat keintiman ini menjadi lebih intim dan intim lagi. Aku mengerti. Tapi tak mengerti.
Sempat aku lontarkan perasaanku, dalam hatiku. Tentu, aku tak bicara. Aku bicara pada mata, dia membalasnya. Mata sayu yang selalu membuatku ingat akan pengorbanan yang dia beri untukku (untuk kami). Beberapa kata dari sosok itu yang selalu meresap pada logika dan perasaanku. Dan mungkin akan aku lakukan.
Mungkin.

*cinta bukanlah cinta jika diucapkan. Namanya cinta jika mampu menyampaikannya*
0 komentar

Sepenggal tulisan dari mulainya keintiman


Semua ini berawal saat posisi ini membelitku. Dimana banyak pihak yang menarikku dari arah yang berbeda, dan mendesakku dari arah yang berbeda pula. Terjepit, untuk bernafas pun aku sulit, apalagi untuk bergerak bebas.
Sesungguhnya aku berada dalam posisi netral. Tidak memberatkan salah satu pihak mana pun di logikaku. Tapi, perasaan ini berkata lain. Aku berpihak pada pihak yang mana memiliki sejarah yang sama denganku. Ya sosok itu.
Aku tak mau terlanjur menggunakan perasaanku, aku tak mau buyar dikala semua ini intim terjadi. Aku hanya ingin netral sampai akhirnya nanti, mungkin aku bisa menggunakan perasaanku pada sosok itu. Sosok dimana yang selalu membuatku malu untuk menangis di depannya, dan sosok yang mampu membuatku menangis sesaat karenanya.
Tak perlu, tak perlu aku bicara sosok itu. Tuhan tahu, dan manusia pun akan tahu nanti bila memang diperbolehkan aku untuk menggunakan perasaanku ini. Di saat semuanya tak lagi intim terjadi.
Ini baru dari sedikit permulaan dari peristiwa yang mungkin panjang. Aku tak tahu kelanjutan dari semua keintiman ini. Aku tak tahu bagaimana logika dan perasaanku berjalan. Aku tak tahu begaimana sosok itu pun menggunakan keduanya sepertiku. Aku tak tahu bagaimana semua ini akan berakhir.

*cinta bukanlah cinta jika diucapkan. Namanya cinta jika mampu menyampaikannya*
0 komentar

Kata Sahabat




Menulis... menulis... menulis...
Berkarya... berkarya.. berkarya...
Kubuka buku catatanku
Kututup kembali
Kubuka mesin pengetikku
Kututup kembali
Kuambil secarik kerttas
Kuremukkan, lalu kubuang ia begitu saja
tanganku digait, kulihat sahabatku di sana
Suaranya menggugah hati dan pikiranku
"..manusia diciptakan untuk berkarya.."
Lalu kuambil secarik kertas
Kunodai ia dengan tinta berisi karyaku

0 komentar

Kurindu Kabutku

Rasa kesendirianku pun makin terasa
Malam kian larut
Namun mataku tak kunjung hendak terpejamkan
Bayang-bayang masa itu hadir
Justru yang menemaniku dalam kesendirianku
Kurindu kabutku..
yang mampu menghangatkanku dengan dingin tubuhnya
Kurindu kabutku..
yang mampu membuat tawa dengan tatapannya
Kurindu kabutku..
yang bisa buatku terlelap dengan buaian lembutnya
Kurindu kabutku..
yang menemaniku di kalaku sendiri
Seperti ini 0 komentar