SABTU MALAM
Sabtu malam musik keras tiba-tiba
menyeruak. Saat itu masih pukul tujuh malam, seharusnya suasana masih sunyi di
ruangan itu. Yang ada hanya para pegawai yang membersihkan ruangan, para penari
sedang bermakeup, dan saya sedang
melamun. Tapi semua itu tidak berlaku malam ini, musik keras sudah memekakan
telinga, ruangan sudah penuh dengan manusia, para penari sudah meliukan
badannya, kecuali saya yang tetap melamun. Malam itu ada artis yang menjadi
bintang tamu, malam itu semua siap, sangat siap.
Malam itu, di ruangan itu saya
sendiri (kembali sendiri). Saya tak peduli. Saya merokok. Saya minum. Saya
berjoget. Saya minum. Saya merokok. Saya limbung. Saya tumbang. Untuk pertama
kalinya saya tumbang. Memalukan. Mereka melihat saya. Mereka tertawa. Saya
tertawa. Kami semua tertawa. Tapi tetap, saya tak mampu bangkit.
Malam itu, sabtu malam pukul sepuluh
malam. Saya belum tumbang. Dan saya masih melamun. Saya belum merokok dan
minum. Saya masih sadar. Dan saya tidak sendiri. Saya bersama seorang lelaki.
Lekaki tampan dengan jins dan kemeja khasnya, dia berantakan tapi rapi.
Sedangkan saya, memakai dress pendek atas lutut 15 cm, tak berlengan dan
memiliki belahan dada, membuat liur sedikit demi sedikit keluar dari mulut
lelaki. Sungguh seksi. Kami pasangan serasi. Dia mengajakku meliukan badan di
tengah-tengah keramaian manusia ruangan itu. Ini kesukaan saya. Dia memberi
saya minuman, yang saya tahu kemudian bahwa itu adalah whiskey. Sampai akhirnya
pandangan saya kabur. Dia berjalan menjauhi saya, dan.
0
komentar


